19 Resource SATUSEHAT: Daftar Lengkap, Fungsi, dan Contoh Datanya di Faskes

19 Resource SATUSEHAT: Daftar Lengkap, Fungsi, dan Contoh Datanya di Faskes

Banyak rumah sakit dan klinik merasa urusan SATUSEHAT sudah beres begitu data kunjungan dan diagnosis muncul di dashboard. Petugas pendaftaran mencatat kunjungan, dokter mengisi diagnosis, dan angka kiriman terlihat naik setiap minggu.

Masalahnya baru terlihat saat dashboard dibuka lebih teliti. Resep dokter terkirim, sementara data penyerahan obat dari farmasi kosong. Permintaan laboratorium tercatat, tetapi spesimen dan laporan hasilnya tidak pernah sampai. Di instalasi radiologi, hasil rontgen hanya tersimpan sebagai file di komputer setempat.

Pola ini muncul di banyak faskes. Integrasi dianggap selesai, padahal kiriman resource SATUSEHAT baru mencakup sebagian alur pelayanan. Kepala rekam medis biasanya baru menyadarinya saat surat teguran datang, saat surveior akreditasi bertanya, atau saat klaim BPJS mulai menuntut data elektronik yang utuh.

SATUSEHAT saat ini memantau 19 resource klinis yang dikirim sistem RME. Setiap resource mewakili satu jenis data: kunjungan, diagnosis, tanda vital, resep, penyerahan obat, spesimen lab, citra radiologi, sampai episode perawatan jangka panjang. Panduan di bawah membahas ke-19 resource itu satu per satu, lengkap dengan contoh data di faskes, titik input yang sering terlewat, dan cara mengecek kelengkapannya.

Kenapa Kelengkapan Resource SATUSEHAT Kini Menentukan Status Faskes

Standar kepatuhan SATUSEHAT naik bertahap sejak 2022. Awalnya faskes cukup terhubung ke platform, kemudian diminta mengirim data kunjungan dan diagnosis, dan sekarang data RME yang terkirim menjadi dasar klaim JKN.

Perkembangan regulasi kiriman data SATUSEHAT, 2022 sampai 2026

TahunRegulasiYang Diatur
2022Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam MedisSeluruh faskes wajib menyelenggarakan RME paling lambat 31 Desember 2023 dan terhubung ke platform SATUSEHAT
2022KMK No. HK.01.07/MENKES/1423/2022Pedoman variabel dan metadata RME, acuan isi data yang dikirim ke SATUSEHAT
2023SE Menkes No. HK.02.01/MENKES/1030/2023Faskes yang sudah terhubung wajib mengirim minimal 50% data Encounter dan Condition, dinilai selama 4 minggu berturut-turut, dengan batas 31 Juli 2024
2026Surat Dirjen Kesehatan Lanjutan No. YM.02.02/D/971/2026 (11 Maret 2026)Sanksi administratif untuk 1.306 rumah sakit yang belum mengirim data sesuai enam modul: Encounter, Condition, MedicationRequest, MedicationDispense, Specimen, dan ImagingStudy
2026Surat Edaran Bersama Kemenkes, Kemendagri, BPJS Kesehatan, dan BSSN (30 Juli 2026)Kebijakan No EMR, No Claim: klaim JKN diajukan dan diverifikasi dari RME terintegrasi SATUSEHAT, dengan tahap penuh mulai Juni 2027

Polanya terlihat jelas. Pada 2023 ukurannya dua resource. Pada 2026 rumah sakit dinilai dari enam resource. Menjelang 2027, isi rekam medis elektronik secara utuh ikut menentukan apakah klaim bisa diproses.

Faskes yang hanya mengejar batas minimum akan mengulang perbaikan sistem setiap kali surat edaran baru terbit. Faskes yang melengkapi resource sesuai layanannya sejak sekarang tinggal memantau konsistensi pengiriman.

Apa Itu Resource SATUSEHAT dan Bagaimana Datanya Mengalir

Resource SATUSEHAT adalah paket data terstandar berformat FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources) yang dikembangkan HL7. Setiap resource punya elemen tetap dan memakai terminologi baku:

  • ICD-10 untuk diagnosis
  • ICD-9-CM untuk tindakan
  • LOINC untuk jenis pemeriksaan dan hasil laboratorium
  • SNOMED CT untuk konsep klinis lain, seperti reaksi alergi
  • KFA (Kamus Farmasi dan Alat Kesehatan) untuk obat dan vaksin

Standar ini membuat catatan dari klinik di Bandung terbaca dengan struktur yang sama oleh rumah sakit rujukan di Jakarta. Tanpa standar, setiap sistem RME menyimpan data dengan format sendiri dan pertukaran data antarfaskes harus dilakukan manual.

Hampir semua resource klinis merujuk ke satu kunjungan (Encounter). Diagnosis, tanda vital, resep, dan permintaan lab menempel pada kunjungan tertentu. Karena itu, kunjungan yang tidak tercatat dengan benar membuat resource lain kehilangan konteks.

Sebelum resource klinis bisa dikirim, faskes juga perlu menyiapkan data induk: Organization (identitas faskes), Location (poli atau ruang layanan), Practitioner (tenaga kesehatan berbasis NIK), dan Patient (ID pasien SATUSEHAT berbasis NIK). Data induk ini tidak masuk hitungan 19 resource, tetapi menjadi syarat agar kiriman tidak ditolak.

Ada dua lingkungan pengiriman yang perlu dibedakan. Sandbox dipakai untuk uji coba dengan data contoh. Production dipakai untuk data pasien sungguhan yang dikirim memakai kode akses API milik faskes. Capaian kepatuhan dihitung dari production.

Satu prinsip lagi dari dokumentasi SATUSEHAT: data yang dikirim mengikuti layanan yang tersedia di faskes. Klinik yang tidak membuka rawat inap tidak perlu mengirim data modul rawat inap. Bagi faskes yang masih memetakan kebutuhan dasar rekam medis elektronik, prinsip ini membantu menentukan prioritas.

Peta 19 Resource SATUSEHAT Mengikuti Alur Pasien

Ke-19 resource SATUSEHAT lahir dari unit kerja yang berbeda, mulai dari meja pendaftaran sampai instalasi farmasi. Tabel berikut memakai urutan dan nama yang sama dengan dashboard Rincian Kiriman Resource SATUSEHAT.

Peta 19 resource SATUSEHAT sesuai urutan dashboard Rincian Kiriman Resource

NoNama di DashboardResource FHIRUnit Asal DataContoh Data
1Kunjungan PasienEncounterPendaftaran, admisi, IGDKunjungan poli umum, rawat inap, IGD
2Kondisi/DiagnosisConditionRuang dokterDiagnosis J06.9 (ISPA), keluhan utama
3ObservasiObservationPerawat, dokter, laboratoriumTekanan darah 130/85 mmHg, suhu 37,8 °C, hemoglobin
4TindakanProcedureRuang dokter, ruang tindakanJahit luka, nebulisasi, scaling gigi
5Resume DietCompositionDokter, ahli giziDiet rendah garam, diet diabetes melitus
6ImunisasiImmunizationPoli KIA, poli imunisasiVaksin hepatitis B dosis 1 beserta nomor batch
7Resep ObatMedicationRequestRuang dokterAmoksisilin 500 mg, 3 kali sehari, 5 hari
8Tebus ObatMedicationDispenseInstalasi farmasiPenyerahan 15 tablet amoksisilin
9Alergi IntoleranAllergyIntolerancePendaftaran, perawat, dokterAlergi penisilin, alergi udang
10RadiologiImagingStudyInstalasi radiologiRontgen toraks, USG abdomen
11Permintaan PemeriksaanServiceRequestRuang dokterOrder darah lengkap, order rontgen toraks
12Impresi KlinisClinicalImpressionRuang dokterKesimpulan klinis dan prognosis
13SpesimenSpecimenLaboratoriumDarah vena, urine sewaktu
14Laporan PemeriksaanDiagnosticReportLaboratorium, radiologiLaporan darah lengkap yang sudah divalidasi
15Rencana PerawatanCarePlanDokter, perawatKontrol ulang 7 hari, edukasi pasien
16Catatan PengobatanMedicationStatementDokter, apotekerObat rutin amlodipin dari faskes lain
17Respon KuesionerQuestionnaireResponsePerawat, apotekerPengkajian resep, formulir skrining
18Data ObatMedicationInstalasi farmasi (data induk)Kode KFA, bentuk sediaan, obat racikan
19Episode PerawatanEpisodeOfCareProgram layananPengobatan TB, pemeriksaan kehamilan

Dari tabel ini terlihat bahwa satu kunjungan pasien bisa menghasilkan lebih dari sepuluh resource sekaligus. Pasien demam yang diperiksa dokter, diminta cek darah, lalu menebus obat sudah menyentuh Encounter, Condition, Observation, ServiceRequest, Specimen, DiagnosticReport, MedicationRequest, MedicationDispense, dan Medication.

Penjelasan Lengkap 19 Resource SATUSEHAT

1. Kunjungan Pasien (Encounter)

Encounter mencatat satu kunjungan pasien ke faskes: siapa pasiennya, dokter yang menangani, poli atau ruang tempat pelayanan, jenis layanan (rawat jalan, rawat inap, atau IGD), dan rentang waktunya. SATUSEHAT juga merekam riwayat status kunjungan, mulai dari pasien tiba, sedang dilayani, sampai kunjungan selesai.

Resource lain hampir selalu merujuk ke Encounter, sehingga kesalahan di sini merambat ke semua data sesudahnya. Titik rawan yang sering muncul ada dua: kunjungan tidak pernah ditutup karena pasien pulang tanpa proses selesai di sistem, atau pasien terdaftar tanpa NIK sehingga ID SATUSEHAT-nya tidak ditemukan.

2. Kondisi/Diagnosis (Condition)

Condition menyimpan diagnosis pasien dalam kode ICD-10, lengkap dengan penanda diagnosis utama atau sekunder dan kunjungan tempat diagnosis itu ditegakkan. Pada tahap anamnesis, resource yang sama juga dipakai untuk mencatat keluhan utama dan riwayat penyakit.

Bersama Encounter, Condition menjadi ukuran pertama kepatuhan sejak SE 1030/2023. Masalah paling umum muncul di ruang dokter: diagnosis ditulis sebagai teks bebas tanpa kode ICD-10, sehingga kunjungan terkirim tetapi diagnosisnya kosong. Kode ICD-10 yang sama juga dipakai dalam bridging BPJS untuk klaim, jadi ketelitian di sini menguntungkan dua proses sekaligus.

3. Observasi (Observation)

Observation mencatat satu hasil pengukuran atau pemeriksaan: tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu, saturasi oksigen, tingkat kesadaran, hasil pemeriksaan fisik, hingga satu parameter laboratorium seperti hemoglobin atau gula darah puasa. Setiap pemeriksaan memakai kode LOINC dan satuan baku, misalnya mmHg untuk tekanan darah.

Volume Observation biasanya paling besar karena satu kunjungan bisa menghasilkan belasan pengukuran. Titik rawannya ada pada cara pencatatan. Tanda vital yang diketik di kolom catatan bebas, seperti "TD 130/85, N 88", tidak bisa dikirim sebagai data terstruktur. Faskes perlu form tanda vital dengan kolom terpisah untuk tiap parameter.

4. Tindakan (Procedure)

Procedure mencatat tindakan medis yang dilakukan pada pasien, seperti jahit luka, nebulisasi, pemasangan infus, pencabutan gigi, atau scaling. Kodenya memakai ICD-9-CM, dengan informasi pelaksana, waktu, dan kunjungan terkait.

Di banyak faskes, tindakan tercatat rapi di tagihan kasir tetapi tidak muncul di rekam medis. Akibatnya tindakan ditagih dan dibayar, lalu tidak pernah terkirim ke SATUSEHAT. Sistem yang menyusun tagihan langsung dari tindakan yang dicatat dokter menutup celah ini, sekaligus mencegah tindakan yang lupa ditagih.

5. Resume Diet (Composition)

Composition adalah resource berbentuk dokumen yang menyatukan beberapa bagian catatan klinis menjadi satu paket. Di dashboard SATUSEHAT, resource ini dipakai untuk resume diet: instruksi atau anjuran diet yang diberikan kepada pasien, misalnya diet rendah garam untuk pasien hipertensi atau diet diabetes melitus.

Resource ini relevan untuk faskes dengan layanan gizi dan rawat inap, juga untuk poli yang rutin memberi edukasi diet pada pasien penyakit kronis. Selama anjuran diet hanya disampaikan lisan saat konsultasi tanpa dicatat di RME, data ini tidak akan pernah terkirim.

6. Imunisasi (Immunization)

Immunization mencatat vaksin yang diberikan: jenis vaksin, dosis ke berapa, tanggal pemberian, rute, petugas, serta nomor batch dan tanggal kedaluwarsa vaksin. Contohnya imunisasi dasar bayi di puskesmas atau vaksin hepatitis B dan influenza untuk pasien dewasa di klinik.

Nomor batch sering terlewat, padahal data ini penting saat ada laporan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Faskes yang mengelola stok vaksin di modul inventory bisa mengambil nomor batch langsung dari stok yang dipakai, sehingga petugas tidak perlu mengetik ulang.

7. Resep Obat (MedicationRequest)

MedicationRequest adalah resep elektronik dari dokter: nama obat dengan kode KFA, kekuatan, dosis, aturan pakai, rute, jumlah, dan lama penggunaan. Resource ini termasuk enam modul yang disebut dalam surat sanksi rumah sakit Maret 2026.

Kendala yang paling sering ditemui ada di master obat. Nama obat di apotek faskes kerap berupa nama dagang atau singkatan internal yang belum dipetakan ke KFA, sehingga resep gagal dikirim. Pemetaan master obat sebaiknya selesai sebelum sistem dipakai penuh, lalu dijaga setiap kali ada obat baru masuk.

8. Tebus Obat (MedicationDispense)

MedicationDispense mencatat obat yang benar-benar diserahkan oleh instalasi farmasi: jenis dan jumlah obat, nomor batch, waktu penyerahan, petugas farmasi, serta resep yang menjadi dasarnya. Data ini bisa berbeda dari resep, misalnya saat apoteker mengganti merek dengan obat generik yang setara atau stok hanya cukup untuk sebagian jumlah.

Pemisahan resep dan penyerahan obat memberi gambaran utuh tentang apa yang diminta dokter dan apa yang diterima pasien. Faskes yang mencatat penyerahan obat di buku manual atau di aplikasi terpisah akan kehilangan resource ini, meskipun resepnya sudah terkirim.

9. Alergi Intoleran (AllergyIntolerance)

AllergyIntolerance mencatat alergi atau intoleransi pasien terhadap obat, makanan, atau zat di lingkungan, termasuk jenis reaksi dan tingkat keparahannya. Contohnya alergi penisilin dengan reaksi ruam, atau alergi udang dengan reaksi sesak napas.

Data ini berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Saat tercatat terstruktur, sistem dapat memberi peringatan ketika dokter meresepkan obat pemicu alergi, dan faskes rujukan bisa membaca riwayat yang sama. Biasakan petugas menanyakan alergi pada kunjungan pertama dan mencatat jawaban "tidak ada alergi" secara eksplisit. Kolom kosong tidak bisa dibedakan dari pertanyaan yang lupa diajukan.

10. Radiologi (ImagingStudy)

ImagingStudy berisi informasi pemeriksaan pencitraan seperti rontgen, CT scan, MRI, atau USG: modalitas, bagian tubuh yang diperiksa, waktu pemeriksaan, dan rujukan ke citra berformat DICOM. Pengiriman citranya umumnya memakai DICOM Router dari SATUSEHAT atau integrasi dengan PACS di instalasi radiologi.

Resource ini paling sering membuat rumah sakit gagal memenuhi kriteria kepatuhan. Penyebabnya teknis: alat radiologi belum terhubung ke jaringan, hasil hanya disimpan sebagai file JPEG atau PDF, atau PACS belum terintegrasi dengan RME. Untuk rumah sakit, pengecekan ImagingStudy sebaiknya masuk agenda pertama tim IT.

11. Permintaan Pemeriksaan (ServiceRequest)

ServiceRequest mencatat permintaan pemeriksaan atau layanan dari dokter: pemeriksaan laboratorium, radiologi, atau rujukan ke layanan lain. Isinya mencakup jenis pemeriksaan (berkode LOINC untuk laboratorium), dokter peminta, prioritas, alasan klinis, dan waktu permintaan.

ServiceRequest adalah awal rantai data penunjang. Urutannya: dokter membuat permintaan, petugas mengambil spesimen, alat atau analis menghasilkan observasi, lalu dokter penanggung jawab menerbitkan laporan. Jika permintaan masih ditulis di kertas pengantar, rantai ini terputus sejak langkah pertama.

12. Impresi Klinis (ClinicalImpression)

ClinicalImpression merekam penilaian klinis dokter setelah mengumpulkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil penunjang. Di dalamnya ada ringkasan temuan, kesimpulan, dan prognosis pasien.

Resource ini sering kosong karena dokter menganggap diagnosis sudah cukup mewakili penilaiannya. Padahal dokter di faskes rujukan membutuhkan alasan klinis di balik diagnosis tersebut. Template RME yang menyediakan kolom asesmen dan prognosis membantu dokter mengisinya dalam alur pencatatan yang sama.

13. Spesimen (Specimen)

Specimen mencatat sampel yang diambil untuk pemeriksaan: jenis spesimen (darah vena, urine, swab, jaringan), waktu dan metode pengambilan, petugas, serta permintaan pemeriksaan yang menjadi dasarnya. Specimen juga termasuk enam resource yang disebut dalam surat sanksi rumah sakit tahun 2026.

Celah umum muncul saat sampel dirujuk ke laboratorium eksternal atau saat waktu pengambilan tidak dicatat. Petugas laboratorium perlu mencatat pengambilan spesimen di sistem pada saat sampel diambil. Pencatatan susulan setelah hasil keluar membuat waktu pengambilan tidak akurat.

14. Laporan Pemeriksaan (DiagnosticReport)

DiagnosticReport adalah laporan hasil pemeriksaan penunjang yang menggabungkan beberapa Observation menjadi satu dokumen, misalnya laporan darah lengkap berisi hemoglobin, leukosit, trombosit, dan hematokrit. Laporan juga memuat kesimpulan dan identitas dokter yang memvalidasinya. Untuk radiologi, DiagnosticReport berisi hasil bacaan dokter spesialis radiologi.

Status laporan sangat menentukan. Hasil yang belum divalidasi dokter penanggung jawab berbeda statusnya dengan hasil final. Fitur persetujuan (approval) hasil lab di RME memastikan yang terkirim ke SATUSEHAT adalah laporan yang sudah diperiksa.

15. Rencana Perawatan (CarePlan)

CarePlan mencatat rencana tindak lanjut untuk pasien: instruksi perawatan, jadwal kontrol ulang, edukasi, target terapi, atau rencana rujukan. Playbook rawat jalan SATUSEHAT menempatkannya sebagai pengiriman data rencana rawat pasien.

Di praktik sehari-hari, rencana seperti "kontrol 7 hari lagi bila demam berlanjut" sering hanya ditulis di catatan dokter. Saat dicatat sebagai CarePlan, rencana ini bisa dibaca faskes lain dan bisa dipakai sebagai dasar pengingat kontrol pasien.

16. Catatan Pengobatan (MedicationStatement)

MedicationStatement mencatat obat yang sedang atau pernah dikonsumsi pasien di luar resep kunjungan saat ini. Contohnya pasien hipertensi yang rutin minum amlodipin dari faskes lain, atau pasien yang mengonsumsi suplemen dan obat bebas.

Data ini menjadi bahan rekonsiliasi obat. Dokter dan apoteker bisa mendeteksi duplikasi terapi atau potensi interaksi sebelum menulis resep baru. Pertanyaan "obat apa yang sedang Bapak/Ibu minum?" perlu punya kolom sendiri di form anamnesis agar jawabannya terkirim sebagai data.

17. Respon Kuesioner (QuestionnaireResponse)

QuestionnaireResponse menyimpan jawaban dari formulir terstruktur. Contoh yang paling umum di faskes adalah pengkajian resep oleh apoteker, yaitu telaah aspek administrasi, farmasetik, dan klinis sebuah resep. Formulir skrining terstruktur juga dapat dikirim dengan resource yang sama.

Nilai resource ini ada pada konsistensi: setiap pasien menjawab pertanyaan yang sama dengan pilihan jawaban yang sama, sehingga hasilnya bisa dibandingkan antarwaktu dan antarfaskes. Formulir skrining atau telaah resep yang masih dicetak dan dicentang manual perlu dipindahkan ke RME agar bisa terkirim.

18. Data Obat (Medication)

Medication adalah data induk obat: kode KFA, nama, bentuk sediaan, kekuatan, dan produsen. Resource ini menjadi acuan bagi resep (MedicationRequest) dan penyerahan obat (MedicationDispense). Obat racikan juga dicatat di sini dengan daftar bahan penyusunnya.

Racikan menjadi tantangan tersendiri karena setiap komponennya harus terpetakan ke KFA. Instalasi farmasi yang merapikan master obat sejak awal akan lebih jarang menemui kiriman resep dan penyerahan obat yang gagal.

19. Episode Perawatan (EpisodeOfCare)

EpisodeOfCare mengelompokkan beberapa kunjungan dalam satu periode perawatan untuk kondisi tertentu. Contohnya pengobatan tuberkulosis selama enam bulan, rangkaian pemeriksaan kehamilan (antenatal care), atau pemantauan pasien penyakit kronis dalam program tertentu.

Tanpa EpisodeOfCare, setiap kunjungan terbaca sebagai peristiwa terpisah. Dengan resource ini, faskes dan pengelola program dapat melihat apakah pasien menuntaskan pengobatannya, berapa kali kontrol terlewat, dan kapan episode perawatan ditutup.

Dampak Operasional Jika Kiriman Resource SATUSEHAT Belum Lengkap

Kekurangan satu atau dua resource terlihat kecil di dashboard. Efeknya baru terasa saat faskes berhadapan dengan regulator, BPJS, dan pasien rujukan.

  • Status kepatuhan dan akreditasi bisa tertahan oleh satu resource. Hasil klarifikasi Kemenkes April 2026 menunjukkan rumah sakit yang sudah memenuhi lima kriteria tetap berstatus tidak valid karena ImagingStudy belum terkirim.
  • Proses klaim JKN ikut bergantung pada kelengkapan data. Dengan kebijakan No EMR, No Claim, data RME yang terkirim ke SATUSEHAT menjadi dasar dokumen klaim. Diagnosis tanpa kode, tindakan yang tidak tercatat, atau hasil penunjang yang tidak terkirim berisiko membuat klaim tertahan.
  • Keselamatan pasien rujukan berkurang. Alergi dan riwayat obat yang tidak terkirim tidak terbaca oleh faskes tujuan, sehingga dokter di sana mengambil keputusan dengan informasi yang kurang.
  • Beban kerja staf bertambah. Data yang tidak terkirim harus dilengkapi lewat input ulang, unggah susulan, dan penyusunan bukti klarifikasi. Pekerjaan ini biasanya jatuh ke tim rekam medis dan IT yang jumlahnya terbatas.

Assist.id Sudah Terintegrasi dengan 19 dari 19 Resource SATUSEHAT

Per pembaruan dashboard SATUSEHAT tanggal 19 Oktober 2026 pukul 00.12, Assist.id tercatat sudah berhasil mengirimkan 19 dari 19 resource di environment production.

Angka ini punya arti teknis yang spesifik. Halaman Rincian Kiriman Resource di SATUSEHAT mengukur keberhasilan penyedia sistem RME mengirim data memakai kode akses API milik faskes yang bekerja sama, di environment production. Artinya, setiap resource sudah terkirim dari operasional faskes yang berjalan dengan data pasien sungguhan. Uji coba di sandbox tidak masuk hitungan ini.

Data tersebut dihasilkan dari alur kerja yang dipakai tim faskes setiap hari. Petugas pendaftaran mencatat kunjungan. Dokter memilih diagnosis berkode ICD-10, mengisi tanda vital, menulis resep, dan mencatat riwayat penyakit serta alergi di rekam medis elektronik. Instalasi farmasi mengelola stok obat multi-depot, sementara laboratorium mencatat pendaftaran pemeriksaan sampai approval hasil oleh dokter penanggung jawab. Untuk klinik gigi, odontogram interaktif dan foto per gigi melengkapi catatan tindakan.

Saat ini Assist.id digunakan lebih dari 6.500 fasilitas kesehatan di Indonesia, mulai dari praktik mandiri, klinik pratama dan utama, klinik multicabang, puskesmas, sampai rumah sakit. Keamanan datanya tersertifikasi ISO 27001 melalui lembaga yang terakreditasi Komite Akreditasi Nasional, sistemnya terdaftar sebagai PSE di Kemkominfo (kini Komdigi), dan RME-nya disesuaikan dengan standar akreditasi klinik dalam KMK No. HK.01.07/MENKES/1983/2022 serta Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan No. HK.02.02/I/105/2023. Bridging BPJS tersedia di sistem yang sama.

Satu hal perlu dipahami saat membaca capaian 19 dari 19. Capaian ini menunjukkan kemampuan sistem. Resource yang dikirim tiap faskes tetap mengikuti layanan yang dibuka. Klinik pratama tanpa instalasi radiologi wajar tidak mengirim ImagingStudy, sementara rumah sakit dengan rawat inap, laboratorium, dan radiologi perlu memastikan seluruh resource terkait terkirim. Keuntungannya, sistem sudah siap saat faskes menambah layanan baru.

Cara Mengecek Kelengkapan Resource SATUSEHAT di Faskes Anda

Tim rekam medis dan IT bisa menjalankan pengecekan berikut bersama, lalu mengulanginya secara berkala.

  1. Buka dashboard monitoring SATUSEHAT untuk faskes Anda dan pastikan filter berada di environment production. Catat resource apa saja yang sudah terkirim beserta volumenya per minggu.
  2. Bandingkan daftar itu dengan layanan yang benar-benar Anda buka. Faskes dengan laboratorium perlu melihat ServiceRequest, Specimen, Observation, dan DiagnosticReport. Faskes dengan instalasi farmasi perlu melihat MedicationRequest, MedicationDispense, dan Medication.
  3. Hitung rasio Encounter dan Condition terhadap jumlah kunjungan di sistem Anda. SE 1030/2023 menilai pengiriman selama empat minggu berturut-turut, jadi pantau trennya per minggu.
  4. Telusuri titik input untuk resource yang kosong atau rendah: diagnosis tanpa kode ICD-10, tanda vital di kolom catatan bebas, obat yang belum terpetakan ke KFA, tindakan yang hanya tercatat di kasir, atau alat radiologi yang belum terhubung.
  5. Minta vendor RME menunjukkan capaian kiriman resource di environment production. Hasil uji sandbox belum membuktikan data faskes Anda bisa terkirim.
  6. Ulangi pengecekan setiap bulan dan setiap kali faskes membuka layanan baru, misalnya laboratorium, radiologi, atau rawat inap.

Rujukan Regulasi dan Dokumentasi

  • Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis
  • Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/1423/2022 tentang Pedoman Variabel dan Meta Data pada Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik
  • Surat Edaran Menteri Kesehatan No. HK.02.01/MENKES/1030/2023
  • Surat Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan No. YM.02.02/D/971/2026 tentang Pemberian Sanksi terhadap Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit
  • Surat Edaran Bersama Kemenkes, Kemendagri, BPJS Kesehatan, dan BSSN tanggal 30 Juli 2026 tentang Percepatan Implementasi Rekam Medis Elektronik Terintegrasi SATUSEHAT dalam Pengelolaan Klaim Jaminan Kesehatan Nasional
  • Dokumentasi Interoperabilitas SATUSEHAT, Kementerian Kesehatan RI (playbook rawat jalan, daftar resource, dan terminologi)

FAQ seputar Resource SATUSEHAT

Apa saja 19 resource SATUSEHAT?

Ke-19 resource SATUSEHAT adalah Encounter, Condition, Observation, Procedure, Composition, Immunization, MedicationRequest, MedicationDispense, AllergyIntolerance, ImagingStudy, ServiceRequest, ClinicalImpression, Specimen, DiagnosticReport, CarePlan, MedicationStatement, QuestionnaireResponse, Medication, dan EpisodeOfCare. Semuanya memakai standar FHIR dan dipantau di dashboard kiriman resource SATUSEHAT.

Apakah setiap faskes wajib mengirim ke-19 resource SATUSEHAT?

Faskes mengirim resource sesuai layanan yang tersedia, jadi klinik tanpa radiologi tidak mengirim ImagingStudy. Untuk rumah sakit, surat Dirjen Kesehatan Lanjutan Maret 2026 menjadikan enam resource sebagai kriteria pengenaan sanksi: Encounter, Condition, MedicationRequest, MedicationDispense, Specimen, dan ImagingStudy.

Apa bedanya environment sandbox dan production di SATUSEHAT?

Sandbox adalah lingkungan uji dengan data contoh untuk memastikan format pengiriman sudah benar. Production adalah lingkungan untuk data pasien sungguhan yang dikirim memakai kode akses API milik faskes. Capaian kepatuhan dan dashboard kiriman resource dihitung dari production.

Resource SATUSEHAT apa yang paling sering belum terkirim di rumah sakit?

ImagingStudy termasuk yang paling sering tertinggal karena membutuhkan koneksi alat radiologi, format DICOM, dan integrasi PACS. Dalam hasil klarifikasi Kemenkes April 2026, sejumlah rumah sakit sudah memenuhi lima kriteria tetapi tetap belum valid karena ImagingStudy belum terkirim.

Bagaimana memastikan vendor RME sudah terintegrasi dengan semua resource SATUSEHAT?

Minta bukti capaian kiriman resource di environment production, karena hasil uji sandbox belum cukup sebagai bukti. Assist.id, misalnya, tercatat sudah mengirim 19 dari 19 resource di production per 19 Oktober 2026.

Apakah kelengkapan resource SATUSEHAT berpengaruh pada klaim BPJS?

Ya. Surat Edaran Bersama 30 Juli 2026 menetapkan pengajuan dan verifikasi klaim JKN berbasis RME yang terintegrasi SATUSEHAT, dengan tahap penuh mulai Juni 2027. Diagnosis berkode ICD-10, tindakan, dan hasil penunjang yang lengkap mengurangi risiko klaim tertahan karena data tidak sesuai.

Apakah Assist.id bisa dipakai dari praktik mandiri sampai rumah sakit?

Bisa. Assist.id menyediakan beberapa varian produk, yaitu Privata, Clinica Lite, Clinica, Clinica Pro, dan Centra, yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap faskes, serta PK Hospita sebagai SIMRS untuk rumah sakit. Seluruhnya terintegrasi dengan SATUSEHAT dan BPJS.

Lengkapi Kiriman Resource SATUSEHAT Faskes Anda bersama Assist.id

Ke-19 resource SATUSEHAT mengikuti alur yang sama dengan pelayanan pasien di faskes Anda setiap hari: pendaftaran, ruang dokter, penunjang, dan farmasi. Langkah paling konkret yang bisa Anda mulai minggu ini adalah membuka dashboard SATUSEHAT, mencocokkan resource yang terkirim dengan layanan yang Anda buka, lalu menelusuri titik input yang masih kosong.

Assist.id sudah membuktikan kiriman 19 dari 19 resource di environment production, digunakan lebih dari 6.500 fasilitas kesehatan, dan tersertifikasi ISO 27001. Sesi konsultasi gratis bersama tim Assist.id bisa menjadi titik awal untuk memetakan resource yang belum terkirim di faskes Anda beserta penyebabnya.

Diskusikan kelengkapan resource SATUSEHAT di faskes Anda